Buscar

W.E.L.C.O.M.E. !n tH!s s!tE

Welcome in my blog!!!
di sini,, kamu bisa baca apapun yang kamu mau..
selamat membaca, ya!
semoga bermanfaat...
Leave Comment, please.... ^^

Aku, Dia, & Musikku



          Aku berada di Geff Symphony. Sebuah bangunan luas dan memiliki nama yang terbaik dalam menghasilkan pemusik-pemusik handal. Sekarang, aku berada pada sebuah ruang yang cukup besar. Ruang bercat creamy peach dengan sebuah lampu besar dan mahal di langit-langit. Lukisan awan yang sangat indah menghiasi atap ruang ini. Banyak sekali kursi berserakan dan di bentuk melingkar. Sebuah piano classic berwarna putih di sudut ruangan itu, membuat ruangan ini semakin terasa hidup. Tak kusangka, aku dapat memasuki ruang yang dulu hanya bisa aku impikan. Aku mendekati piano itu. Aku menekan beberapa tuts, dan memainkannya sesuka hatiku. Tiba-tiba, ada yang membuka pintu kayu jati itu. Aku terkejut. Dan dia berkata padaku.
          “Seharusnya, kau mainkan crescendo pada part itu. Pasti terdengar lebih baik.”
            (crescendo: makin lama makin keras)
          “Ah, maaf. Aku tidak bermaksud memainkan piano ini. Maafkan aku.”
Segera aku berdiri, dan menyingkir.
“Tak apa. Mainkan lagi. dan lakukan crescendo pada part tadi.”
“Oh, baiklah.”
Aku memainkan kembali lagu itu dengan arahannya. Ternyata, terdengar lebih indah. Aku semakin menyukai lagu itu.
“Bagaimana? Lebih baik bukan?”
“Iya. Terima kasih. Kau siapa?”
“Kau, tidak mengenalku? Ok. Baiklah. Aku yang mengelola gedung, dan pemilik piano classic itu. Perkenalkan, namaku Giovany Deschag. Panggil saja Gio. Siapa kau? Aku baru melihatmu pertama kali di sini.”
“Aku Lyra. Lyra Evarences. Tadi, orang yang didepan, menyuruhku untuk masuk ke ruang ini. Katanya, aku akan berlatih disini, dan akan ada orang yang masuk untuk membimbingku.”
“Oh, kau yang mengikuti program Gold Individual Person?”
“Iya.”
“Kenapa kau mengikuti program ini? Ini program yang sangat mahal. Dan kau tidak akan memiliki teman karena kau hanya akan latihan berdua saja dengan pelatihmu. Jamnya pun berbeda dengan anggota yang lain.”
“Aku memang menginginkannya. Aku ingin menekuni bidangku ini tanpa ada yang tahu.”
“Mengapa begitu? Bukankah lebih menyenangkan jika bermain bersama beberapa orang?”
“Aku sering dicemooh dan dikucilkan oleh teman-temanku. Mereka berkata, aku lebih pantas bermain sendiri. Karena aku bermain tergantung pada suasana hatiku. Karena itu, aku ingin menjadi sosok pianis yang hebat. Pianis yang dapat membuat orang-orang ikut hanyut dalam lagu yang aku bawakan.”
“Benarkah kau ingin seperti itu? Dan kau ingin membuktikan pada teman-temanmu?”
“Ya. Umm.. dari tadi, aku tidak melihat ada orang yang masuk ke sini. Apakah pelatih itu tidak mau melatihku?”
“Haha.. Apa kau tidak menyadari bahwa pelatihmu sudah memasuki ruangan ini, dan berdiri di hadapanmu sejak tadi?”
“Ah! Maafkan aku. Aku tidak menyadarinya. Karena tuan terlalu..”
“Muda? Haha… Aku telah melihat profil dirimu. Dan umur kita hanya terpaut 2 tahun. Karena itu, tak perlu memanggilku tuan. Panggil saja Gio. Memang, banyak yang terkejut karena pelatih mereka yang belajar disini masih tergolong muda. Mungkin, karena bakat dari alam, sehingga aku bisa menjadi pelatih music dan mengelola gedung ini. Mau dimulai sekarang latihannya? Kau hanya memiliki waktu 2 jam setiap harinya. Jangan sia-siakan waktumu!”
“Oh, baiklah. Kita mulai sekarang.”
Ini, adalah awal pertemuanku dengan pelatih pianoku. Umur yang tidak terpaut jauh, membuat aku dan Gio seperti layaknya teman biasa. saling bersenda gurau, dan saling berbagi cerita. Gio selalu membuat hari-hariku penuh warna.
***
3 bulan telah berlalu. Dan aku masih rajin latihan. Akhir-akhir ini, aku berlatih sendiri. Mungkin, gio sedang lelah, atau sibuk mengelola gedung ini. Tapi, tak apa. Dia selalu meninggalkan catatan kecil di atas pianonya, agar aku bisa memperbaiki kesalahan-kesalahanku pada lagu yang aku mainkan, dan terkadang menyuruhku untuk berlatih lagu baru yang dituliskan pada catatan kecil itu. Tiba-tiba, Gio masuk dengan raut wajah yang lelah dan kusut.
“Apa yang terjadi padamu? Raut mukamu membuatku takut.”
“Maaf, Lyra. Sepertinya, kau harus berlatih dengan pelatih dan piano lain mulai lusa.”
“Memangnya, ada masalah apa?”
“Orang tuaku bankrupt. Kami harus mengganti kerugian pada beberapa perusahaan. Dan CEO gedung ini, tidak ingin memiliki pelatih yang berstatus sepertiku. Piano ini akan dijual, untuk menutup kerugian itu.”
“Aku turut sedih. Lalu, kau akan tinggal di mana?”
“Aku akan tinggal bersama salah satu keluarga ayahku di luar kota. Mungkin, hidup kami bisa lebih baik di sana. Jika keluargaku sudah bangkit kembali, aku akan menemuimu.”
“Oh, begitukah? Tidakkah ini terlalu menyakitkan? Aku tak memiliki teman selain dirimu. Dan sekarang kau akan meninggalkanku?”
“Maaf, Lyra. Tapi, ini memang takdir. Bersikap baiklah pada pelatih barumu. Karena ia sudah senior, pengalamannya jauh lebih baik. Jangan suka membantah jika sedang bersamanya. Sampaikan dengan baik jika kau ingin berpendapat tentang musikmu nanti. Senior itu sangat mengerti akan dunia music. Jadi ambillah kesimpulan setiap dia bercerita tentang pengalamannya. Kau mengerti bukan?”
“Uh.. baiklah. Aku coba untuk mengingat semua kata-katamu.”
“Hari ini, aku ingin bermain piano berdua denganmu di pianoku untuk terakhir kali. Bersediakah kau melakukannya?”
“Tentu saja.”
Kami pun membawakan lagu sesuai dengan suasana hati kami saat ini. Aku benar-benar hanyut dalam permainan tangan kami. Aku seperti ikut merasakan kegelisahan dan kesedihan yang dirasakan Gio.
***
Telah lewat satu minggu dari tidak hadirnya dan menghilangnya Gio dari kehidupanku. Aku benar-benar tidak menyukai pelatih baruku. Terlalu bawel. Banyak protes keras. Selalu menghardikku jika aku salah sedikit saja. dia tidak pernah membenarkan permainanku yang salah. Aku disuruhnya untuk mencari kesalahan pada permainanku sendiri. Aku tahu, metode itu adalah metode paling tepat untuk melatih otak dan pendengaranku. Tapi, aku tidak bisa melakukannya. Karena setiap bertemu pelatih baruku ini, moodku hilang begitu saja. Entah kenapa.
“Lakukan staccato pada part 3!”
(staccato: memainkan nada dengan terputus-putus)
“Setelah itu harusnya Fermata! Apa kau tak membacanya?”
(fermata: berhenti dengan waktu yang tidak terikat oleh ketukan)
“Sudah! Sekarang, buka part 36. Mainkan!”
Aku pun memainkannya. Belum ada setengah dari bagian itu, dia sudah menghardikku lagi.
“Seharusnya kau lakukan tremolo! Apa kau tidak mengerti?!”
(tremolo: memainkan notasi berulang-ulang dalam tempo cepat)
“Berikan penambahan mezzo forte! Lalu lakukan Riverso!)
(mezzo forte: agak keras)
(riverso: cara bermain terbalik dari belakang ke depan)
Ya. Seperti itulah dia selalu memarahiku. Aku selalu berusaha melakukannya dengan benar. Tapi selalu salah di pendengarannya. Dia selalu ingin semua yang aku mainkan perfect. Tapi aku jarang bisa melakukan itu. Aku harus bisa bertahan. Agar aku bisa membuktikan pada Gio bahwa aku telah mengingat semua kata-katanya dengan cara aku bermain dengan baik tanpa cacat.
***
Hari ini, pelatih meliburkanku karena dia ada urusan bersama panitia orchestra. Mungkin akan ada concert dari beberapa symphony terkenal. Yah, mungkin aku akan melihatnya. Aku sekarang memasuki sebuah toko yang menjual berbagai alat music. Setelah melihat-lihat, aku terpaku pada salah satu piano classic bercat putih. Mirip sekali dengan milik Gio. Aku mendekatinya, dan benar. Terukir nama Gio di piano itu. Pelayan toko mengatakan bahwa piano ini merupakan milik seseorang dan di jual di toko ini karena orang itu bankrupt. Aku menanyakan harga piano itu. Dan setelah terjadi tawar menawar dengan pelayan dan si empunya toko, aku berhasil membeli piano itu. Kini, aku bisa bermain dengan piano Gio setiap hari.
***
Seorang pria memasuki toko music itu. Ia menanyakan sebuah piano classic berwarna putih yang dijualnya 2 bulan lalu. Pelayan toko itu memberitahu, bahwa piano itu sudah terjual. Pria itu meminta nama dan alamat pembeli tersebut. Sayang, pelayan itu menghilangkan kartu nama pembeli itu. Ia hanya mengingat nama pembeli itu. Namanya adalah Eva. Pria itu mulai mencari seorang pianis bernama Eva yang telah membeli pianonya.
Sudah berhari-hari ia mencarinya. Tapi, tak dapat menemukannya. Suatu hari, ia mendapatkan selebaran pertunjukkan pianis-pianis baru yang lahir dari Geff symphony. Ketika ia membaca anggota pianis baru, ia menemukan nama Eva. Nama lengkapnya, Eva-rences Lyra. Ia tidak menyangka. Bahwa orang bernama Eva yang dia cari-cari selama ini adalah Lyra. Ia segera membeli tiket untuk melihat pertunjukkan itu. Ia harus melihat perkembangan Lyra.
***
Minggu ini benar-benar melelahkan. Karena aku harus tampil dalam sebuah pertunjukkan untuk solois-solois baru. Tapi, ini sesuatu yang baru dan menyenangkan. Aku akan tampil di depan ribuan orang. semoga Gio melihat penampilanku.

Hari yang aku tunggu-tunggu tiba. Aku menggunakan piano Gio. Agar dia tahu bahwa aku akan membawakan lagu dengan pianonya, dan berhasil sebagai pianis terbaik, tanpa cacat. Aku segera menyewa mobil untuk membawa piano itu menuju gedung Geff Symphony.
Persiapan sudah usai. Dan saat ini, aku sedang menunggu giliranku untuk tampil. Rasanya, aku seperti ikut audisi untuk pemilihan ratu sejagad.
Namaku telah dipanggil. Aku pun keluar dengan penuh percaya diri, dan memberi hormat pada penonton. Dan tak kusangka, Gio berada pada deretan ketiga paling depan. Dia melambaikan tangan dan mengacungkan jempolnya padaku. Aku benar-benar bahagia. Dia bisa melihatku berada di panggung ini.
Aku pun memainkan ‘Piano Sonata in C Major’ dan ‘Waltz in G-Flat Major’ dengan baik dan tanpa kesalahan. Penonton memberikan standing applause setelah permainanku usai. Gio pun memberikan kode padaku agar aku keluar dari ruangan untuk menemuinya.
“Gio!!”
“Lyra!”
Kami pun berpelukan melepas rindu. Lama sekali rasanya tidak bertemu.
“Kau memainkannya dengan indah. Aku menyukainya.”
“Ini semua berkat do’a dan pianomu.”
“Kau juga harus berterima kasih pada pelatihmu itu.”
“Ya, aku sudah melakukannya. Maafkan aku, aku membeli pianomu tanpa seizinmu. Oh ya, kau sudah bangkit dari keterpurukan?”
“Haha… keterpurukan? Tidak separah itu, Lyra. Keluargaku sudah dapat bangkit, dan kami membuat usaha kecil-kecilan. Seminggu yang lalu, aku berniat membeli pianoku kembali. Tapi, piano itu sudah tak ada. Pelayan toko ituu mengatakan bahwa pianis wanita bernama Eva yang membelinya. Aku mencari berhari-hari. Sampai akhirnya aku melihat selebaran, dan aku baru menyadari bahwa Eva itu adalah dirimu. Sejak kapan kau mengganti namamu?”
“Aku tidak mengganti namaku. Hanya saja, kata pelatih, nama Eva akan lebih baik. Karena itu aku menuliskan nama pada selebaran seperti itu. Pelatih yang menyuruhku. Aku sekarang jadi perbincangan orang-orang. kata mereka, aku pianis yang hebat. Haha.. apalagi, aku terkesan elegant saat tampil bersama dengan pianomu.”
“Baiklah, Eva. Maukah kau mengembalikan pianoku? Aku bisa membelikan piano baru untukmu yang persis seperti milikku.”
“Mengembalikan pianomu? Tidak mau. Aku sudah membelinya. Aku juga tidak mau kau mengeluarkan uang untukku hanya demi sebuah piano.”
“Tapi, aku ingin bersama dengan pianoku lagi. ayolah, aku mohon..”
“Tidak mau. Aku ingin piano ini menjadi milik kita berdua selamanya.”
“Maksudmu?”
“Kau mau kan selalu ada disisiku, menemaniku dan berbagi suka duka bersama?”
“Kau serius?”
“Tentu saja.”
“Dengan senang hati. Aku akan menjadi satu-satunya orang yang akan menjadi pasangan hidupmu.”
Kami pun berpelukan kembali. Kali ini, seakan-akan tak ada siapa pun di sekitar kami. Serasa tempat ini hanya milik kami berdua. Tiba-tiba, Gio melepaskan pelukannya.
“Lyra..”
“Ya?”
“Jangan bergerak.”
“Ada apa? Kenapa aku..”
“Ssst.. jangan bicara. Diamlah. Ikuti saja apa yang akan aku lakukan.”
Aku pun memejamkan mata. Hembusan napasnya serasa begitu dekat. Wajahnya bersentuhan dengan wajahku. Dan aku pun terhanyut dalam sentuhan yang begitu dalam. Tak peduli bagaimana orang-orang di sekitar melihat kami. Kami tak bisa berhenti. Dan malam ini, adalah malam terindah bagiku dan Gio...

0 komentar:

Posting Komentar