Buscar

W.E.L.C.O.M.E. !n tH!s s!tE

Welcome in my blog!!!
di sini,, kamu bisa baca apapun yang kamu mau..
selamat membaca, ya!
semoga bermanfaat...
Leave Comment, please.... ^^

Tentang: BlogQ



Sebenarnya, fungsi blogku ini apa ya? Enggak ada sesuatu yang khusus atau spesifik tentang blogku. Misalnya, blog tentang masakan, atau tentang olahraga, atau untuk curhat, atau apalah. Blogku ini, isinya tentang cerita kehidupanku, lirik lagu, puisi buatanku, cerpen buatanku, info-info yang aku suka (meskipun gak update), korea, manga, banyak deh pokoknya.
Lalu, aku juga suka mencari-cari gadget dan template untuk blogku. Tapi,, pasti gak ada yang pas dengan hati. L udah nyarinya susah, berpuluh-puluh halaman aku lampaui, tetep gak ada yang suka. Kalau gak gitu, prosesnya ribet.
Aku juga suka otak-atik HTML blogku. Sampai pernah gak karuan.. berantakan poooll…
Tapi, dengan adanya itu, aku jadi semakin suka dengan blogku. Mungkin, sampai aku tua, blogku ya hanya satu itu aja. Gak akan ada yang lain. Semoga saja. amien… :D
Oh ya, aku heran. Kenapa aku tidak pernah bosan dengan blogger? Padahal, aku juga punya wordpress.. apa karena pakai blogger lebih mudah? Gak ribet? Bisa dimasuki gadget apa aja? Bisa update gambar, lagu, berita, bisa pasang iklan juga? Karena itu?
Hmm.. sepertinya begitu. Apalagi, dengan hadirnya Google+, jadi semakin cinta deh sama blogger! J
Love my blog! Buat yang sering baca blogku, jangan bosan kalau aku selalu nge-post gak penting. Ok? :D

Akhir2 ini, aku lagi seneng buat cerita, atau kalimat-kalimat untuk mengisi hari-hariku yang sedikit membosankan. Kan gak mungkin aku cuman makan, tidur, lihat tv. Dengan kegiatanku nulis-nulis di blog, aku juga bisa mengobati rasa kangenku karena gak bisa ketemu temen2ku SMA.  T.T
Selain itu, dengan aku nulis gini, aku bisa menyalurkan hobi menulisku. Semoga, aku bisa menerbitkan buku, dan buku-buku yang aku tulis dan diterbitkan nanti, bisa terkenal. Entah novel, atau ribuan kalimat yang dibukukan, semoga aku gak putus asa di tengah jalan. Hobi ini harus terus dijalankan, dan diperbaiki… ;D

Btw, aku juga lagi ingin ngumpulin blog temen2ku yang masih di update terus…..
Supaya nanti kalau udah bertahun-tahun, aku bisa cari tahu kabarnya. Ok kan? Ide bagus bukan? Hahaha…

Yah, aku nulis kali ini, gak ada intinya. Cuman kata-kata dan kalimat-kalimat yang ada di uneg2ku. Ok semuanya, curhatnya lain waktu lagi ya.. bye..

Aku, Dia, & Musikku



          Aku berada di Geff Symphony. Sebuah bangunan luas dan memiliki nama yang terbaik dalam menghasilkan pemusik-pemusik handal. Sekarang, aku berada pada sebuah ruang yang cukup besar. Ruang bercat creamy peach dengan sebuah lampu besar dan mahal di langit-langit. Lukisan awan yang sangat indah menghiasi atap ruang ini. Banyak sekali kursi berserakan dan di bentuk melingkar. Sebuah piano classic berwarna putih di sudut ruangan itu, membuat ruangan ini semakin terasa hidup. Tak kusangka, aku dapat memasuki ruang yang dulu hanya bisa aku impikan. Aku mendekati piano itu. Aku menekan beberapa tuts, dan memainkannya sesuka hatiku. Tiba-tiba, ada yang membuka pintu kayu jati itu. Aku terkejut. Dan dia berkata padaku.
          “Seharusnya, kau mainkan crescendo pada part itu. Pasti terdengar lebih baik.”
            (crescendo: makin lama makin keras)
          “Ah, maaf. Aku tidak bermaksud memainkan piano ini. Maafkan aku.”
Segera aku berdiri, dan menyingkir.
“Tak apa. Mainkan lagi. dan lakukan crescendo pada part tadi.”
“Oh, baiklah.”
Aku memainkan kembali lagu itu dengan arahannya. Ternyata, terdengar lebih indah. Aku semakin menyukai lagu itu.
“Bagaimana? Lebih baik bukan?”
“Iya. Terima kasih. Kau siapa?”
“Kau, tidak mengenalku? Ok. Baiklah. Aku yang mengelola gedung, dan pemilik piano classic itu. Perkenalkan, namaku Giovany Deschag. Panggil saja Gio. Siapa kau? Aku baru melihatmu pertama kali di sini.”
“Aku Lyra. Lyra Evarences. Tadi, orang yang didepan, menyuruhku untuk masuk ke ruang ini. Katanya, aku akan berlatih disini, dan akan ada orang yang masuk untuk membimbingku.”
“Oh, kau yang mengikuti program Gold Individual Person?”
“Iya.”
“Kenapa kau mengikuti program ini? Ini program yang sangat mahal. Dan kau tidak akan memiliki teman karena kau hanya akan latihan berdua saja dengan pelatihmu. Jamnya pun berbeda dengan anggota yang lain.”
“Aku memang menginginkannya. Aku ingin menekuni bidangku ini tanpa ada yang tahu.”
“Mengapa begitu? Bukankah lebih menyenangkan jika bermain bersama beberapa orang?”
“Aku sering dicemooh dan dikucilkan oleh teman-temanku. Mereka berkata, aku lebih pantas bermain sendiri. Karena aku bermain tergantung pada suasana hatiku. Karena itu, aku ingin menjadi sosok pianis yang hebat. Pianis yang dapat membuat orang-orang ikut hanyut dalam lagu yang aku bawakan.”
“Benarkah kau ingin seperti itu? Dan kau ingin membuktikan pada teman-temanmu?”
“Ya. Umm.. dari tadi, aku tidak melihat ada orang yang masuk ke sini. Apakah pelatih itu tidak mau melatihku?”
“Haha.. Apa kau tidak menyadari bahwa pelatihmu sudah memasuki ruangan ini, dan berdiri di hadapanmu sejak tadi?”
“Ah! Maafkan aku. Aku tidak menyadarinya. Karena tuan terlalu..”
“Muda? Haha… Aku telah melihat profil dirimu. Dan umur kita hanya terpaut 2 tahun. Karena itu, tak perlu memanggilku tuan. Panggil saja Gio. Memang, banyak yang terkejut karena pelatih mereka yang belajar disini masih tergolong muda. Mungkin, karena bakat dari alam, sehingga aku bisa menjadi pelatih music dan mengelola gedung ini. Mau dimulai sekarang latihannya? Kau hanya memiliki waktu 2 jam setiap harinya. Jangan sia-siakan waktumu!”
“Oh, baiklah. Kita mulai sekarang.”
Ini, adalah awal pertemuanku dengan pelatih pianoku. Umur yang tidak terpaut jauh, membuat aku dan Gio seperti layaknya teman biasa. saling bersenda gurau, dan saling berbagi cerita. Gio selalu membuat hari-hariku penuh warna.
***
3 bulan telah berlalu. Dan aku masih rajin latihan. Akhir-akhir ini, aku berlatih sendiri. Mungkin, gio sedang lelah, atau sibuk mengelola gedung ini. Tapi, tak apa. Dia selalu meninggalkan catatan kecil di atas pianonya, agar aku bisa memperbaiki kesalahan-kesalahanku pada lagu yang aku mainkan, dan terkadang menyuruhku untuk berlatih lagu baru yang dituliskan pada catatan kecil itu. Tiba-tiba, Gio masuk dengan raut wajah yang lelah dan kusut.
“Apa yang terjadi padamu? Raut mukamu membuatku takut.”
“Maaf, Lyra. Sepertinya, kau harus berlatih dengan pelatih dan piano lain mulai lusa.”
“Memangnya, ada masalah apa?”
“Orang tuaku bankrupt. Kami harus mengganti kerugian pada beberapa perusahaan. Dan CEO gedung ini, tidak ingin memiliki pelatih yang berstatus sepertiku. Piano ini akan dijual, untuk menutup kerugian itu.”
“Aku turut sedih. Lalu, kau akan tinggal di mana?”
“Aku akan tinggal bersama salah satu keluarga ayahku di luar kota. Mungkin, hidup kami bisa lebih baik di sana. Jika keluargaku sudah bangkit kembali, aku akan menemuimu.”
“Oh, begitukah? Tidakkah ini terlalu menyakitkan? Aku tak memiliki teman selain dirimu. Dan sekarang kau akan meninggalkanku?”
“Maaf, Lyra. Tapi, ini memang takdir. Bersikap baiklah pada pelatih barumu. Karena ia sudah senior, pengalamannya jauh lebih baik. Jangan suka membantah jika sedang bersamanya. Sampaikan dengan baik jika kau ingin berpendapat tentang musikmu nanti. Senior itu sangat mengerti akan dunia music. Jadi ambillah kesimpulan setiap dia bercerita tentang pengalamannya. Kau mengerti bukan?”
“Uh.. baiklah. Aku coba untuk mengingat semua kata-katamu.”
“Hari ini, aku ingin bermain piano berdua denganmu di pianoku untuk terakhir kali. Bersediakah kau melakukannya?”
“Tentu saja.”
Kami pun membawakan lagu sesuai dengan suasana hati kami saat ini. Aku benar-benar hanyut dalam permainan tangan kami. Aku seperti ikut merasakan kegelisahan dan kesedihan yang dirasakan Gio.
***
Telah lewat satu minggu dari tidak hadirnya dan menghilangnya Gio dari kehidupanku. Aku benar-benar tidak menyukai pelatih baruku. Terlalu bawel. Banyak protes keras. Selalu menghardikku jika aku salah sedikit saja. dia tidak pernah membenarkan permainanku yang salah. Aku disuruhnya untuk mencari kesalahan pada permainanku sendiri. Aku tahu, metode itu adalah metode paling tepat untuk melatih otak dan pendengaranku. Tapi, aku tidak bisa melakukannya. Karena setiap bertemu pelatih baruku ini, moodku hilang begitu saja. Entah kenapa.
“Lakukan staccato pada part 3!”
(staccato: memainkan nada dengan terputus-putus)
“Setelah itu harusnya Fermata! Apa kau tak membacanya?”
(fermata: berhenti dengan waktu yang tidak terikat oleh ketukan)
“Sudah! Sekarang, buka part 36. Mainkan!”
Aku pun memainkannya. Belum ada setengah dari bagian itu, dia sudah menghardikku lagi.
“Seharusnya kau lakukan tremolo! Apa kau tidak mengerti?!”
(tremolo: memainkan notasi berulang-ulang dalam tempo cepat)
“Berikan penambahan mezzo forte! Lalu lakukan Riverso!)
(mezzo forte: agak keras)
(riverso: cara bermain terbalik dari belakang ke depan)
Ya. Seperti itulah dia selalu memarahiku. Aku selalu berusaha melakukannya dengan benar. Tapi selalu salah di pendengarannya. Dia selalu ingin semua yang aku mainkan perfect. Tapi aku jarang bisa melakukan itu. Aku harus bisa bertahan. Agar aku bisa membuktikan pada Gio bahwa aku telah mengingat semua kata-katanya dengan cara aku bermain dengan baik tanpa cacat.
***
Hari ini, pelatih meliburkanku karena dia ada urusan bersama panitia orchestra. Mungkin akan ada concert dari beberapa symphony terkenal. Yah, mungkin aku akan melihatnya. Aku sekarang memasuki sebuah toko yang menjual berbagai alat music. Setelah melihat-lihat, aku terpaku pada salah satu piano classic bercat putih. Mirip sekali dengan milik Gio. Aku mendekatinya, dan benar. Terukir nama Gio di piano itu. Pelayan toko mengatakan bahwa piano ini merupakan milik seseorang dan di jual di toko ini karena orang itu bankrupt. Aku menanyakan harga piano itu. Dan setelah terjadi tawar menawar dengan pelayan dan si empunya toko, aku berhasil membeli piano itu. Kini, aku bisa bermain dengan piano Gio setiap hari.
***
Seorang pria memasuki toko music itu. Ia menanyakan sebuah piano classic berwarna putih yang dijualnya 2 bulan lalu. Pelayan toko itu memberitahu, bahwa piano itu sudah terjual. Pria itu meminta nama dan alamat pembeli tersebut. Sayang, pelayan itu menghilangkan kartu nama pembeli itu. Ia hanya mengingat nama pembeli itu. Namanya adalah Eva. Pria itu mulai mencari seorang pianis bernama Eva yang telah membeli pianonya.
Sudah berhari-hari ia mencarinya. Tapi, tak dapat menemukannya. Suatu hari, ia mendapatkan selebaran pertunjukkan pianis-pianis baru yang lahir dari Geff symphony. Ketika ia membaca anggota pianis baru, ia menemukan nama Eva. Nama lengkapnya, Eva-rences Lyra. Ia tidak menyangka. Bahwa orang bernama Eva yang dia cari-cari selama ini adalah Lyra. Ia segera membeli tiket untuk melihat pertunjukkan itu. Ia harus melihat perkembangan Lyra.
***
Minggu ini benar-benar melelahkan. Karena aku harus tampil dalam sebuah pertunjukkan untuk solois-solois baru. Tapi, ini sesuatu yang baru dan menyenangkan. Aku akan tampil di depan ribuan orang. semoga Gio melihat penampilanku.

Hari yang aku tunggu-tunggu tiba. Aku menggunakan piano Gio. Agar dia tahu bahwa aku akan membawakan lagu dengan pianonya, dan berhasil sebagai pianis terbaik, tanpa cacat. Aku segera menyewa mobil untuk membawa piano itu menuju gedung Geff Symphony.
Persiapan sudah usai. Dan saat ini, aku sedang menunggu giliranku untuk tampil. Rasanya, aku seperti ikut audisi untuk pemilihan ratu sejagad.
Namaku telah dipanggil. Aku pun keluar dengan penuh percaya diri, dan memberi hormat pada penonton. Dan tak kusangka, Gio berada pada deretan ketiga paling depan. Dia melambaikan tangan dan mengacungkan jempolnya padaku. Aku benar-benar bahagia. Dia bisa melihatku berada di panggung ini.
Aku pun memainkan ‘Piano Sonata in C Major’ dan ‘Waltz in G-Flat Major’ dengan baik dan tanpa kesalahan. Penonton memberikan standing applause setelah permainanku usai. Gio pun memberikan kode padaku agar aku keluar dari ruangan untuk menemuinya.
“Gio!!”
“Lyra!”
Kami pun berpelukan melepas rindu. Lama sekali rasanya tidak bertemu.
“Kau memainkannya dengan indah. Aku menyukainya.”
“Ini semua berkat do’a dan pianomu.”
“Kau juga harus berterima kasih pada pelatihmu itu.”
“Ya, aku sudah melakukannya. Maafkan aku, aku membeli pianomu tanpa seizinmu. Oh ya, kau sudah bangkit dari keterpurukan?”
“Haha… keterpurukan? Tidak separah itu, Lyra. Keluargaku sudah dapat bangkit, dan kami membuat usaha kecil-kecilan. Seminggu yang lalu, aku berniat membeli pianoku kembali. Tapi, piano itu sudah tak ada. Pelayan toko ituu mengatakan bahwa pianis wanita bernama Eva yang membelinya. Aku mencari berhari-hari. Sampai akhirnya aku melihat selebaran, dan aku baru menyadari bahwa Eva itu adalah dirimu. Sejak kapan kau mengganti namamu?”
“Aku tidak mengganti namaku. Hanya saja, kata pelatih, nama Eva akan lebih baik. Karena itu aku menuliskan nama pada selebaran seperti itu. Pelatih yang menyuruhku. Aku sekarang jadi perbincangan orang-orang. kata mereka, aku pianis yang hebat. Haha.. apalagi, aku terkesan elegant saat tampil bersama dengan pianomu.”
“Baiklah, Eva. Maukah kau mengembalikan pianoku? Aku bisa membelikan piano baru untukmu yang persis seperti milikku.”
“Mengembalikan pianomu? Tidak mau. Aku sudah membelinya. Aku juga tidak mau kau mengeluarkan uang untukku hanya demi sebuah piano.”
“Tapi, aku ingin bersama dengan pianoku lagi. ayolah, aku mohon..”
“Tidak mau. Aku ingin piano ini menjadi milik kita berdua selamanya.”
“Maksudmu?”
“Kau mau kan selalu ada disisiku, menemaniku dan berbagi suka duka bersama?”
“Kau serius?”
“Tentu saja.”
“Dengan senang hati. Aku akan menjadi satu-satunya orang yang akan menjadi pasangan hidupmu.”
Kami pun berpelukan kembali. Kali ini, seakan-akan tak ada siapa pun di sekitar kami. Serasa tempat ini hanya milik kami berdua. Tiba-tiba, Gio melepaskan pelukannya.
“Lyra..”
“Ya?”
“Jangan bergerak.”
“Ada apa? Kenapa aku..”
“Ssst.. jangan bicara. Diamlah. Ikuti saja apa yang akan aku lakukan.”
Aku pun memejamkan mata. Hembusan napasnya serasa begitu dekat. Wajahnya bersentuhan dengan wajahku. Dan aku pun terhanyut dalam sentuhan yang begitu dalam. Tak peduli bagaimana orang-orang di sekitar melihat kami. Kami tak bisa berhenti. Dan malam ini, adalah malam terindah bagiku dan Gio...

Kecil hingga Kini



Berawal dari sebuah isakan tangis seorang bayi ketika di lahirkan di dunia, itu adalah moment di mana aku membuka mataku untuk melihat seluruh dunia tanpa ragu. Mencoba untuk menggerakkan diri setelah terdiam dalam sebuah kegelapan. Mencoba mengenal siapa kedua orang tuaku. Mengenal sosok dan suara lembut ibu yang melahirkanku dan ayah yang akan selalu mengiringiku.
Mungkin, sudah 5 tahun berlalu. Kini aku bersekolah di sebuah Taman Kanak-kanak. TK Kemala Bhayangkari, ya, itu namanya. Di sekolah ini, aku mengenal teman, canda tawa, dan semua kejadian menyenangkan.
Kali ini, aku memasuki sekolah yang tak jauh berbeda dari masa TKku, hanya saja tingkatannya sedikit lebih tinggi. Di SD Kebonsari 1 Tuban ini, aku mengenal lebih banyak teman, lebih banyak canda tawa, tangis, dan ejekan-ejekan yang sebenarnya tak perlu ditanggapi. Aku juga memiliki sebuah geng. Pernah suatu ketika, ada perselisihan antara gengku dan geng lain (meskipun kami satu kelas, kami tetap berbeda geng). Saat itu, gengku pecah, karena ada provokator. Tapi, sama sekali tidak mengubah keadaan. Lalu, aku mengikuti geng lain. Disinilah, provokator itu beraksi lagi. ia yang membuat geng ini rusak, persahabatan kami juga. Entah kenapa dia melakukannya.
sungguh masa-masa SD yang menyenangkan dan menyedihkan.
Aku dan teman-teman SDku berpisah. Kami menuju SMP yang kami inginkan. Aku menginjakkan kakiku ke sebuah sekolah yang terletak di dekat alun-alun kota, SMP N 1 Tuban. Disini, aku pertama kalinya mengagumi seseorang. Orang yang aku temui ketika aku mengikuti Masa Orientasi Siswa. Berkulit sawo matang, berwibawa, manis, dewasa, bijaksana, pintar berorganisasi, dan masih banyak kelebihannya. Disini pula aku bertemu teman-teman baru, dan aku membuat sebuah kelompok belajar dengan mereka. Setelah berkenalan dengan mereka, mulailah masa perjuanganku untuk mencapai cita-citaku, menjadi seorang dokter. Kelompok belajarku ini, akhirnya berubah menjadi sahabat-sahabat setia. Masa suka duka, kecewa, dan perasaan untuk mengagumi sesseorang, adalah bumbu-bumbu ketika bersama teman-temanku. Kami juga pernah harus melanggar peraturan agar dapat bertegur sapa dengan orang yang kami kagumi. Tak hanya sampai disitu. Kami juga sempat di gertak oleh kakak kelas kami, karena mendekati orang yang menjadi kekasihnya. Miris rasanya, tapi lucu juga ketika mengingatnya.
Tiba saatnya, ketika aku harus masuk ke tingkat yang lebih tinggi lagi. ketika aku harus memasuki ‘masa yang paling indah’, begitu kata orang-orang. aku memasuki dunia baru, dan jauh berbeda dari sebelumnya. Aku menginjakkan kaki di SMA N 1 Tuban. Disinilah, kehidupan baru pun di mulai. Di SMA ini, aku bertemu dengan orang yang aku kagumi pertama kali. Entah kenapa, aku tetap mengaguminya, meskipun sudah lama rasanya tak bertemu. Ia semakin dewasa, semakin berwibawa, semakin manis (menurutku), dan semakin bertanggung jawab.
Kali ini, di masa inilah, aku akan menentukan kembali, menelusuri bakat dan keinginanku. Setelah aku melakukan itu semua, aku mencapai sebuah keputusan, bahwa aku ingin menjadi seorang dokter gigi, bukan seorang dokter. Aku pun memantapkan hati sejak saat itu.
Di masa ini, aku mengikuti pertukaran pelajar di Singapura, mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler, dan sampai meraih juara dalam ekskul tersebut.
Di sini pula, aku masuk ke jurusan IPA, sesuai keinginanku. Aku bertemu teman-teman baru, di kelas baru, dan menuangkan cerita baru. Ada rasa suka, senang, susah, duka, tangis, kecewa, marah, sensitive, falling in love with someone, dan berbagai rasa lainnya ketika bersama teman-teman baru yang kini adalah sahabat-sahabat yang tak akan terlupakan dan tergantikan.
Dan saat ini, aku masih bersama mereka. Berjuang bersama. Kami mulai mencari jurusan dan universitas yang kami inginkan untuk terus melangkah ke depan. Aku pun mencoba di salah satu universitas swasta terkenal di Surabaya. Dan aku pun lolos di jurusan yang aku inginkan, Kedokteran Gigi. Tinggal menunggu hasil pemilihan di universitas negeri. Keinginanku saat ini, adalah lulus UNAS dan lolos SNMPTN. Hanya itu.
Aku pun meninggalkan sebuah kisah cintaku yang ambigu, dan membingungkan, demi sebuah masa depan yang harus aku raih. Biar aku membuka lembaran baru untuk kisan percintaanku dengan seseorang yang akan menjadi pasangan hidupku nanti.
Ya Allah, terima kasih atas semua yang Engkau berikan kepadaku. Sejak aku lahir, sampai saat ini, tak henti aku selalu ingin memujiMu, karena Engkau yang membuatku bisa membanggakan orang-orang yang aku sayangi. Atas restuMu, aku selalu dapat melakukan apa yang aku mau, mendapatkan yang aku inginkan, dan memiliki semua rasa kasih sayang yang aku perlukan…