Buscar

W.E.L.C.O.M.E. !n tH!s s!tE

Welcome in my blog!!!
di sini,, kamu bisa baca apapun yang kamu mau..
selamat membaca, ya!
semoga bermanfaat...
Leave Comment, please.... ^^

Berawal dari sebuah mimpi, menjadi sebuah cerita...

Ceritaku kali ini, adalah sebuah cerita yang lain dari cerita Ana dan Bagas sebelumnya. Dan ceritaku ini, adalah sebuah mimpi milikku, lalu aku beri sedikit bumbu-bumbu imajinasi. . .
***
Terngiang selalu di telingaku, selalu terpikirkan di otakku, sebuah nama, nama yang tak akan terlupa. Nama yang selalu membuatku tersenyum. Nama yang membuatku ingin selalu bertemu dan meletakkan hatiku kepadamu, Bagas…
                Saat ini, aku sedang sendiri, merenungkan sesuatu yang tak pasti. Dan tepat saat ini pula, sebuah lagu mengalun di telingaku. Lagu yang membuatku selalu teringat padanya.
Jika teringat tentang dikau, jauh di mata dekat di hati. Sempat terpikir tuk kembali, walau beda akan kujalani. Tak ada niat untuk selamanya pergi. Jika teringat tentang dikau, jauh di mata dekat di hati. Apakah sama yang kurasa, ingin jumpa walau ada segan. Tak ada niat untuk berpisah denganmu…
***
                Untuk yang kesekian kalinya, jam kosong menghampiri kelasku. Sudah beberapa hari ini, selalu seperti ini. Dan saat ini, aku sedang memegang handphoneku, menunggu seseorang mengirimiku pesan. Ya, aku menunggu pesan dari Bagas. Tapi, dia tak kunjung mengirimiku pesan. Benar-benar menyebalkan. Dia pasti sudah melupakanku. Dan sepertinya, memang begitu. Dia pernah bercerita padaku bahwa ada orang yang menyukainya. Ya, aku tak ingin mencampuri urusan pribadinya. Biarlah. Toh, jelasnya, aku bukan siapa-siapa lagi baginya. Sudahlah, lupakan.
***
Pulang sekolah hari ini, hawanya tidak mengenakkan. Hawanya panas, tapi cuacanya mendung. Semoga saja hujan. Amien…
                Tidak seperti biasanya, kali ini, aku melewati jalur pantura. Aku tidak ingin melewati jalan biasanya. Terlalu ramai, dan bisa-bisa macet. Saat melewati laut, rasanya menyenangkan. Hawa dingin menjalar di setiap pori-pori tubuhku.
Traffic light menunjukkan lampu hijau. Aku menghentikan kebiasaanku menikmati udara laut, dan segera melaju dengan kecepatan 40km/jam. Saat di pertigaan, aku langsung berbelok. Tiba-tiba ada sebuah motor sport melaju dengan cepat, dan kami bertabrakan. Aku terjatuh dari motorku sekitar 3 meter. Bukuku tercecer di jalan. Orang-orang segera menolongku dan menolong orang yang menabrakku. Mereka mengkhawatirkanku, melihat luka di kepalaku, dan banyak goresan di tangan dan kakiku. Aku hanya bisa merintih, sakit. Sekilas, aku melihat orang yang menabrakku. Sepertinya dia tak apa. Dia masih bisa berjalan normal, sementara aku, untuk berdiri saja tak bisa. Dia menghampiriku. Penglihatanku sedikit kabur, sehingga tak dapat melihat jelas wajahnya. Orang-orang mulai menyalahkan dan memakinya. Dia berkata pada orang-orang bahwa akan memperbaiki motorku dan membawaku ke rumah sakit.
‘Tinggal sedikit lagi sampai rumah saja, harus kecelakaan. Sekarang aku harus gimana? Dasar! Kalau mau lewat, lihat kanan kiri dulu donk! Seenaknya saja kalau lewat! Awas saja kalau sampai gak tanggung jawab. Bakal aku laporkan ke kantor polisi. Baru tau rasa!’ umpatku dalam hati.
Dia mendekatiku dan melihat keadaanku. Aku tak menatapnya, aku masih membingungkan motorku, dan luka di tubuhku. Kepalaku rasanya pening. Tiba-tiba, dia berbicara padaku.
                “Fit…”
                Fit? Dia memanggilku, fit? Bukannya yang memanggilku seperti itu hanya Bagas?
                “Kamu Rana Fitri bukan?” ucapnya.
                Aku mendongakkan kepalaku. Dan…
                “Bagas?!” kataku dengan terkejut.
                “Kamu tak apa? Maafkan aku. Aku benar-benar tak tau. Aku…”
                “Sudahlah, tak apa. Tapi, aku sekarang tak bisa berdiri. Maukah kau mengantarku pulang? Aku tidak sanggup kalau harus pulang sendiri.”
                “Kalian berdua sudah saling mengenal?” tanya seseorang yang menolongku.
                “Ya, Dia mantan pacar saya, pak. Jadi, biar saya saja yang menolong.”
                “Oh, ya sudah mas. Kita bantu cari becak ya? Motornya di titipkan sini saja. Biar diperbaiki di sini sekalian. Gimana mas?”
                “Iya pak. Nanti sore motornya saya ambil.”
                “Iya mas. Kasihan mbaknya. Ternyata yang nabrak mantannya sendiri. Sabar ya mbak, ini ujian.” Kata orang itu sambil senyum-senyum.
                Aku tak peduli apa kata orang dan kata Bagas. Aku sekarang sedang mencari jawaban di pikiranku untuk di utarakan ke kedua orang tuaku. Pasti mereka khawatir.
                “Ayo, kita ke rumah sakit dulu, fit. Kepalamu berdarah. Aku takut lukamu itu luka dalam. Sini, aku bantu berdiri.”
                “Oh, ya. Makasih.” Jawabku kaku.
                Selama di perjalanan menuju rumah sakit, aku tak tau harus bicara apa. Sepertinya, dia juga begitu. Pertemuan pertama yang tak menyenangkan. Kalau pertemuan pertama saja seperti ini, bagaimana untuk pertemuan-pertemuan berikutnya?
Keheningan melanda kami. Tak satu pun dari kami angkat bicara.
Setelah sampai rumah sakit, dia segera mengurus semuanya. Mulai dari administrasi, sampai pengobatan. Akhirnya, setelah sekian lama, dia angkat bicara.
                “Kamu harus menginap malam ini. Dokter tidak mengijinkanmu pulang. Mereka takut terjadi apa-apa dengan kepalamu jika kamu pulang. Besok siang, mungkin baru boleh pulang. Aku akan menghubungi orang tuamu. Bisa aku minta nomor handphonenya?”
                Aku segera memberitahukan padanya. Dan dia segera menghubungi orang tuaku. Beberapa saat kemudian, orang tuaku datang. Dengan wajah cemas. Orang tuaku menghiburku. Lalu, ayahku menemui Bagas. Mungkin, ingin bertanya apa yang terjadi padaku. Sedangkan Ibuku menemaniku. Aku mendengar sedikit-sedikit percakapan ayahku dan Bagas. Tak ada nada marah terdengar di ucapan ayahku. Syukurlah.
2 jam berlalu. Orang tuaku pulang. Lebih tepatnya, aku yang mengatakan kepada mereka bahwa mereka harus istirahat karena besok kerja. Toh, aku sudah tak apa. Hanya pusing saja. Akhirnya mereka pulang, dengan sedikit rasa lega.
Bagas masuk ke kamar. Dia tersenyum padaku.
                “Kenapa senyum-senyum?” tanyaku.
                “Tak apa. Lucu saja. Kita pertama kali bertemu di saat seperti ini. Di saat aku menabrakmu, lebih tepatnya. Dan kamu adalah mantanku saat ini. Sulit dijelaskan. Tapi, kamu mengerti maksudku kan?”
                “Ya. Aku mengerti. Ini adalah takdir. Benar bukan?”
                “Ya, kau benar.”
                Dia mulai mengingatkanku tentang aku dan dia saat pertama kali, sampai saat ini. Sore akhirnya berganti malam. Dan dia masih setia menungguku.
                “Pulanglah. Keluargamu pasti khawatir.”
                “Khawatir? Aku ini laki-laki. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Justru, aku takut. Jangan-jangan, kamu tidak betah di rumah sakit dan melarikan diri.”
                “Dasar, kau ini! Tak mungkin lah, aku melarikan diri. Jalan saya belum tentu bisa. Oh ya, sebenarnya, tadi siang kamu mau ke mana?”
                “Oh, tidak penting. Sahabatku butuh teman cerita. Dia menyuruhku datang ke rumahnya.”
                “Sahabatmu? Orang yang suka denganmu itu?”
                “Ya. Kenapa? Kamu cemburu?” tanyanya menggodaku.
                “Sepertinya begitu. Hahaha…” Jawabku sambil tertawa.
                “Hei, pulanglah. Ini sudah jam 8 malam. Aku tidak mau kau menunggu seseorang sepertiku yang notabenenya tidak kau kenal. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Lagipula, disini banyak dokter dan perawat.” Kataku.
                “Benar? Kamu yakin? Tak apa kalau aku pulang?”
                “Ya. Pulanglah.”
                “Kalau begitu, aku pulang dulu.”
                Dia pun berlalu, dan melempar senyum kepadaku sebelum menutup pintu.
***
Jujur, hari ini adalah hari yang aku sesali jika aku tak bisa masuk sekolah. Kenapa? Karena, hari ini jadwalnya Fisika, Matematika. Haduh, rasanya pusing 7 keliling. Bagaimana ini?
Seseorang membuka pintu. Oh, dokter, suster dan orang tuaku. Aku berharap kalau yang membuka pintu Bagas. Sepertinya, tidak mungkin ya?
                Orang tuaku menengokku sebelum mereka berangkat kerja. Setelah kedua orang tuaku pergi, Bagas menemuiku.
                “Hai, pagi.” Sapanya.
                “Pagi juga. Aku kira, kamu tidak akan datang. Tentu saja aku datang. Dan aku baru saja mengembalikan motormu ke rumah. Oh ya, aku mau bicara sesuatu. Kamu mau dengar?”
                “Ya, tentu saja.”
                Dia pun menceritakan tentang temannya yang tak ku kenal. Setelah lama bercerita, di mengatakan padaku, maukah aku menjadi pacaranya. Aku terdiam. Dia mengatakannya lagi. dan aku tetap terdiam.
                “Fit? Kamu tak suka aku mengatakannya?”
                “Bukan begitu. Aku, aku juga menyukaimu. Aku selalu mengingatmu di setiap sela-sela hariku. Aku ingin kamu selalu menjadi motivasi buatku Aku juga ingin kita bersama. Tapi, untuk saat ini, aku harus menahan semua itu. Jujur, aku tak ingin bertemu denganmu karena aku harus menahan rasaku ini. Jika sudah bertemu seperti ini, aku akan susah untuk menahan rasa dalam hati ini.”
                “Untuk apa kau menahan rasamu itu? Aku tak ingin kau semakin tersiksa dengan menahan semua itu. Aku ingin kau melepaskan rantai itu dan menuju kepadaku. Aku ingin kau selalu bersamaku meski itu di ambang kematian. Aku ingin kau selalu menjadi milikku satu, dan tak akan terbagi untuk yang lain.”
                “Aku, . . . aku tak bisa. Aku tak bisa melepaskan rantai ini. Meskipun kau meminta bahkan memaksa untuk membukanya.”
                Aku pun menangis. Menangis karena aku yang lemah ini, tak mampu mengatakan bahwa aku menyukainya. Aku menangis karena rasa hormat dan patuhku pada orang tuaku lebih kuat daripada hanya sekedar cinta yang tak tau bagaimana nantinya. Aku yang bodoh, dan tak tau apa-apa ini, tak akan melepaskan rantai hati ini begitu saja.
                Dia hanya bisa diam membisu. Melihatku yang menangis tanpa suara. Aku melihat gurat wajah kekecewaan darinya. Aku melihat matanya yang menatapku, seolah-olah dia berkata, ‘aku harus berbuat apa lagi agar kau percaya bahwa aku menyukaimu?’. Dan dia pergi. Berlalu begitu saja. tanpa menoleh kepadaku sedikitpun. Tangisanku semakin tak tertahankan. Aku ingin menjerit di laut lepas dan berkata bahwa aku sangat menyukainya. Aku tak bisa memikirkan apa yang saat ini dilakukannya, apa yang terjadi padanya setelah perkataanku itu dan tangisku yang tak sengaja kuperlihatkan kepadanya.
***
                Aku sudah pulang dari rumah sakit seminggu yang lalu. Dan dari waktu itu pula dia tak menghubungiku sama sekali. Aku merasa aku kehilangan dia. Dia kecewa kepadaku? Dia tak ingin bertemu lagi denganku? Atau, dia akan menghilang dan menjauh dari kehidupanku?
Aku tak bisa berbuat apapun. Aku tak kuasa memaksanya untuk tak kecewa padaku. Aku tak mungkin memaksanya untuk terus bertemu denganku. Aku tak bisa melakukan apapun. Aku tak bisa berhenti memikirkannya. Aku,… aku…
***
                Lima tahun kemudian.
               
Ini adalah tempat pertemuan pertamaku dengannya. Ya, di sebuah rumah sakit. Kali ini, aku mengunjungi temanku. Aku tak bisa melupakan kejadian itu. Aku tak mungkin lupa sebesar apa rasa cintanya padaku. Apa dia juga seperti itu? Aku tak tahu. Jelasnya, aku sudah lost contact with him. Entah, dia sekarang sedang apa, dengan siapa, dan dimana. Aku tak ingin memikirkannya. Karena aku tak bisa berhenti menyukainya. Aku tak bisa berhenti tersenyum saat mengingatnya. Aku mungkin sudah gila. Tapi, ini adalah kenyataan. Bahwa aku tak dapat membuka hati untuk orang lain. Dia selalu dibenakku. Selalu ada dalam hatiku. Setiap hembusan nafasku, selalu tersebut namamu. Aku masih dapat mengingat dengan jelas wajah khawatirnya dan gurat kekecewaannya ketika bersamaku. Semua ekspresi itu tersimpan dalam memoriku.
Waktu untuk menjenguk temanku telah usai. Aku segera keluar. Dan aku menabrak seseorang.
“Maaf, mas. Saya tidak lihat jalan. Anda tidak apa-apa?”
Saat aku mendongak, ternyata…
“Bagas?!”
Dia tersenyum ke arahku.
“Rana? Sudah lama tidak bertemu. Bagaimana keadaanmu?”
“Aku baik-baik saja.”
Dia memanggilku, Rana? Formal sekali. Dia tak pernah seperti itu sebelumnya. Apa ini pertanda bahwa dia sudah menghapus memori tentangku?
“Rana, kenalkan ini Vina.”
“Hai, aku Rana.”
“Vina. Jadi, dia ini yang dulu bersamamu?” tanya Vina.
“Ya. Rana, bisa tunggu disini sebentar? Aku akan mengantar Vina menemui temannya.”
“Ya. Tentu saja.”
Aku hanya bisa miris melihat keadaanku sekarang. Aku terlalu berharap pada seseorang yang telah memiliki orang lain yang dia cinta. Vina, memang pantas untuknya. Mereka pasangan serasi. Aku akan berusaha melupakannya. Melupakan semua kenangan tentangnya. Bagas. Ya, aku tak akan menyebut namanya dan aku tak akan menyimpannya dalam memoriku. Sudah cukup. Kali ini, aku menahan tangis. Tangis kekecewaan.
“Rana? Kau kenapa?” tanya Bagas. Kali ini wajahnya terlihat biasa saja.
“Aku tak apa. Hanya sedikit lelah.”
“Benarkah?”
“Ya. Kenapa kau tak bersama kekasihmu itu? Pergilah. Dia pasti akan cemburu melihat kita berdua disini.”
“Kau menyuruhku pergi? Kita sudah tak bertemu lima tahun, Rana.”
“Kau sudah melupakanku bukan? Kau juga sudah punya kekasih yang lain. Kau juga memanggilku Rana. Itu berarti kau sudah melupakanku.”
“Hanya karena nama, kau seperti ini?”
“Seperti ini? Aku tak pernah melupakanmu selama ini. Kita lost contact. Nomor handphonemu tak bisa dihubungi. Akunmu juga tidak aktif. Selama ini kau kemana? Aku mencarimu.”
“Cukup, Rana. Kau tak perlu menjelaskan apa pun lagi padaku. Ini sudah cukup.”
“Apa maksudmu?”
“Rana, selama lima tahun ini aku bekerja di Jakarta. Dan baru beberapa bulan yang lalu aku dipindahkan di cabang Surabaya. Aku tak bisa dihubungi karena handphoneku dicuri orang saat aku di jalan. Akunku telah diblokir seseorang. Entah siapa.”
“Lalu, kau tak berusaha menghubungiku, setidaknya menyapaku, tapi, kau menautkan hati kepada perempuan lain?”
“Maksudmu, Vina?”
“Ya. Vina. Perempuan yang bersamamu itu.”
“Tenanglah Rana. Semua ini tidak seperti yang kau pikirkan.”
“Tidak seperti yang aku pikirkan? Lalu apa?”
“Rana, calm down. Believe me. Okay?
What? I can’t believe. I hate you. Now and ever.
“Kau membenciku? Jangan katakan itu Rana.”
Why? Kau tak suka? Aku tak peduli.”
Aku berjalan pergi meninggalkannya. Perdebatanku dengannya didengarkan oleh teman-temanku, beberapa orang di rumah sakit, dan Vina. Tapi, aku tak peduli. Emosi dan cemburu sudah di ubun-ubun. Aku ingin segera membuang jauh diriku dari hadapannya. Tak ada gunanya lagi. Percuma.
“RANAAA!!!!” teriaknya.
Aku tak mendengarkannya. Aku berjalan semakin cepat. Setengah berlari.
“RANAAA!!! I MISS YOU SO MUCH. I LOVE YOU.”
‘Apa? Apa aku tak salah dengar?’
Dia mengejarku. Dan meraih tanganku.
Willl you marry me, Rana?”
###

Bagaimana kelanjutan ceritanya? Dipikir sendiri ya… ^^
Terima kasih telah membaca.. ^^

0 komentar:

Posting Komentar