Buscar

W.E.L.C.O.M.E. !n tH!s s!tE

Welcome in my blog!!!
di sini,, kamu bisa baca apapun yang kamu mau..
selamat membaca, ya!
semoga bermanfaat...
Leave Comment, please.... ^^

Antara Mimpi & Impian


Berawal dari mimpi, mungkin akan menjadi suatu kisah nyata. Meskipun tak sesuai dengan yang aku impikan. Cerita kali ini, berawal dari mimpi. Sebagian besar ceritanya adalah mimpiku. Ditambah sedikit bumbu-bumbu agar lebih menarik. Selamat membaca kawans, selamat berimajinasi ria. Maaf jika aada kemiripan nama, karena aku memang menggunakan nama kalian. ^^

***

Banyak kejadian yang menimpa kita, baik secara langsung, atau melalui pertanda lewat mimpi terlebih dahulu. Tinggal bagaimana kita menyikapi secara bijak atau tidak.

“Satu setengah tahun yang lalu, tiba-tiba ayahku meninggal dalam sebuah kecelakaan yang menurutku memang sudah direncanakan oleh seseorang. Aku tidak peduli, siapa orang itu. Aku dan ibuku merasa benar-benar terjatuh karena ayah begitu cepat tiada. Tetapi, kami tetap berusaha untuk tegar. Banyak orang dan kerabat yang merasa kasihan, empati, turut berduka, memasang muka sedih yang bisa jadi, dia justru bahagia melihat kepergian ayahku dan melihat keterpurukan kami. Tak sedikit juga orang yang mencibir. Aku dan ibuku tetap bungkam.”

***

Satu setengah tahun yang lalu…

            Hai. Perkenalkan. Aku fitri, kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi dan sudah semester 6, di salah satu universitas terkenal di Malang, kota yang menurutku iklimnya dingin. Di kota ini, aku bertemu dengan sahabat-sahabatku, my best friend forever lah istilahnya. Namanya? Ada Nai, Laila, Rika, Riana, Via, dan Kiki. Ada satu lagi sebenarnya. Namanya Arsie. Tapi, dia sedang menjauhiku. Entah kenapa. Mungkin sedang badmood atau apalah. Sudah berbulan-bulan dia tidak ikut kita kumpul-kumpul bareng. Ya udah sih. Toh kalau dia masih butuh bantuan, kita tetep bantu. Dan, aku punya kekasih hati selama aku di kota penuh kampus ini. Namanya Jefri. Bukan orang  asli Malang pokoknya. Tapi masih di jawa timur. Bolehlah ya. Tapi, ya gitu, hubunganku masih belum di ketahui oleh kedua ortuku. Biasa. Kan ayah dan ibu cari yang sempurna tanpa cacat.

            Ujian Akhir Semester pun berlalu. Liburan? Belum lah. Masih ada semester pendek yang saat ini berjalan. Lalu terjadi kejadian yang paling buruk dalam hidup. Ayahku meninggal. Aku segera pulang, dan melihat jasad ayahku yang terbujur kaku. Aku tidak bisa berkata sepatah katapun. Hanya bisa menangis sambil meratapi sosok yang sekarang tak berdaya. Sosok yang selama ini belum sempat aku balas budinya. Sosok yang selama ini selalu mengkhawatirkanku dalam keadaan apapun. Sosok yang selama ini selalu membuatku ingat bahwa perjuangannya hanya demi membuatku mencapai ilmu yang nanti akan berguna bagi orang lain. Dan masih banyak lagi yang tidak bisa aku ungkapkan tentangnya.

Ayahku meninggal dalam sebuah kecelakaan yang menurutku memang sudah direncanakan oleh seseorang. Aku tidak peduli, siapa orang itu. Aku dan ibuku merasa benar-benar terjatuh karena ayah begitu cepat tiada. Tetapi, kami tetap berusaha untuk tegar. Banyak orang dan kerabat yang merasa kasihan, empati, turut berduka, memasang muka sedih yang bisa jadi, dia justru bahagia melihat kepergian ayahku dan melihat keterpurukan kami. Tak sedikit juga orang yang mencibir. Aku dan ibuku tetap bungkam.

Sudah lewat seminggu. Ibu bilang bahwa kuliahku tetap harus berjalan. Akhirnya aku tetap ikut semester pendek. Lalu saat pembayaran UKT, tidak ada uang untuk membayar. Aku pun memutuskan untuk tidak kuliah. Aku bercerita ke dosen pembimbingku, dan apa yang beliau katakan? Beliau mau meminjamkan uang untukku kuliah. Paling tidak, kata beliau harus lulus sarjana, meskipun aku tidak bisa melanjutkan ke profesi atau co-ass. Aku hanya bisa menangis di pelukannya dan bercerita ke ibuku. Ibu pun mengucap syukur yang tiada henti sambil menangis.

Hingga akhirnya akupun lulus menjadi sarjana. Dosbingku mengatakan bahwa akan membiayai profesiku juga. Tapi, aku bilang sudah cukup. Karena hanya merepotkan saja. Aku mengatakan bahwa akan meneruskan usaha ayahku yang di bidang pertanian itu. Daripada menganggur dan tidak berjalan. Aku juga bilang bahwa akan mengembalikan uang dosbingku itu ketika aku sudah cukup mapan.

Aku pun tidak berdiam diri. Kembali pulang ke rumah, dan mulai membangun usaha ayahku yang sudah di mulai dari nol itu. Aku segera menghubungi orang-orang yang papaku percaya dulu, untuk membantuku dalam menjalankan usaha ini. Dan mereka pun setuju membantu. Aku juga menghubungi teman-teman ayahku, meminta bantuan untuk mengajariku tentang bidang yang digemari papaku ini. Aku juga mengikuti kursus tentang manajemen. Semua aku lakukan. Aku juga mulai mengikuti tender-tender di berbagai perusahaan. Dan mulai menampakkan hasil dengan cara aku memenangkannya. Dan ibu hanya bisa memberi dukungan. Ibuku juga tetap bekerja menjadi PNS. Di saat-saat seperti ini, aku mengenalkan kekasihku pada ibu.

“Ibu, perkenalkan. Ini orang yang dari dulu ingin aku kenalkan pada ayah dan ibu, tapi masih belum ada kesempatan. Dan sekarang adalah waktu yang tepat menurutku.”

“Siapa dia?”

“Dia ini adalah orang yang bisa membuatku bahagia, Bu. Orang yang dari aku kuliah, ayah meninggal, aku sedih susah senang, selalu ada disampingku. Menguatkanku. Memotivasiku. Dan aku ingin dia menjadi imamku nantinya.”

Ibu pun berkenalan dengannya. Mulai tanya dari hal yang kecil sampai besar. Bertanya apa rencananya ke depan. Bertanya bagaimana aku dan dia bertemu. Bertanya bagaimana hubunganku dengannya ke depan. Setelah ibu selesai menanyakan apapun yang memang harus ditanyakan. Ibu mengatakan..

“Iya, Nak. Kamu boleh berhubungan dengan lelaki ini. Semoga benar dan sesuai dengan doamu. Semoga memang dia ini adalah jodohmu. Ibu tidak mau neko-neko. Sudah cukup yang seperti ini. Asal kamu bisa bahagia dan bertanggungjawab atas apa yang menjadi pilihanmu.”

Aku langsung memeluk ibu. Memeluk se-erat-eratnya. Dan aku pun memeluk Jefri. Orang yang akan menjadi imamku. Diapun memelukku dengan erat. Dan mengucap syukur di dekat telingaku. Syukur tiada tara.

***

Selama satu setengah tahun terakhir, memang penuh cobaan, gejolak, dan hal-hal yang membuatku jauh lebih kuat dari yang aku bayangkan. Aku dan ibu sudah mulai bangkit dari keterpurukan. Aku sudah bisa berdiri di atas kakiku sendiri. Tidak hanya meminta uang pada Ibu. Tapi sudah bisa memberi apa yang ibu inginkan. Sudah bisa menutup hutang-hutang ayah. Sudah bisa membayar hutangku ke dosbingku. Dan yang tau aku berjuang sedemikian rupa hanya Ibu, beberapa kerabat ibu, dan kekasihku. Sahabat-sahabatku hanya tau aku tidak melanjutkan profesi karena tidak ada biaya, aku kembali ke kota kelahiranku dan mereka tau aku dalam keadaan baik-baik saja.

***

Sekarang…

Aku sekarang kembali ke Malang, kota dingin tempat aku menimba ilmu, dan tempat aku menjalani usaha yang sudah dirintis ayahku. Saat ini, sebagian besar toko-toko pertanian dapat pasokan dari CV ku. Senang? Bahagia? Tentu saja. Apalagi, aku sudah punya mobil dan rumah di malang. Yah meskipun itu mencicil. Tapi sudah bisa dipakai dan di tempati lah ya.

Mau tau seperti apa rumahku? Ya. Rumahku biasa saja. Ada teras dan sedikit halaman di depan serta belakang rumah. Ada garasi di sisi kiri rumah. Pagar minimalis berwarna hitam. Cat dinding berwarna abu-abu muda, dengan setengah dinding luar seperti batu grafit, dinding pilar yang menyangga teras dihiasi batu kali warna abu-abu tua. Pintu utama terdiri dari dua pintu dan dua buah jendela di kanan kirinya terbuat dari jati dengan cat warna coklat gelap. Masuk ke dalam rumah tetap dengan konsep minimalis. Ruang keluarga dan ruang tamu menjadi satu dan ditemui ketika membuka pintu utama. Kemudian disekat oleh lemari buku, lalu menuju dapur dan ruang makan. Dapur dan ruang makan ini bisa tembus ke garasi. Kanannya, terdapat tangga menuju ke lantai 2. Belakang dapur terdapat dinding dengan jendela panjang serta pintu untuk menuju ke halaman belakang yang juga terdapat teras kecil, kamar mandi dan WC. Ada 2 kamar di lantai 1, tepat bersebelahan dengan ruang tamu dan dapur. Lalu di lantai 2 terdapat satu kamar tidur, 1 ruang kosong untuk pekerjaan sang kekasih, satu kamar mandi, sedikit ruang untuk bermain, dan balkon.

Mau tanya mobilku juga? Boleh. Mobilku mobil bekas. Nissan Juke. Warna merah terang. Dengan pintu untuk kursi belakang aku ganti pintu geser. Jok mobil untuk bagian yang mengemudi, selain bisa dimaju mundurin, aku buat bisa dinaikkan ke atas. Kenapa? Karena aku pendek, jadi kalau tinggi jok nya tetap normal, aku tidak bisa melihat jalan. Interior dalamnya tetap sama kok. ^^

            Aku sempat menengok beberapa waktu lalu. Menengok teman-temanku yang sedang menajalankan kuliah profesinya. Keributan dan banyak ego di mana-mana. Ada yang bingung harus melakukan apa dan sebagainya. Aku hanya bisa tersenyum. Harusnya sekarang aku menjalani apa yang mereka jalani sekarang. Tapi, aku bersyukur. Keadaan berubah seperti ini mungkin memang sudah jalan dari yang kuasa. Dan memang tidak bisa di pungkiri bahwa aku lebih bahagia dengan keadaanku sekarang. Aku tak sempat menyapa mereka. Aku pun kembali bekerja. Karena ada beberapa pupuk dan bibit lain yang harus aku antar ke toko.

            Malamnya, aku pun chat di grup line yang isinya sahabat-sahabatku.

Aku     : kalian lagi apa nih? Aku kangen *hug *kiss

Laila    : aku juga kangen beb

Rika     : aku juga kangen beb

Riana  : sini cium *kiss

Nai      : ke mana aja? Baru nongol

Aku     : hilang di telan bumi, trus lahir lagi. Haha

Rika     : kapan ke malang?

Aku     : segera ya. Aku mau ketemu kalian. Mana nih Via sama Kiki? Ga muncul-muncul

Laila    : sibuk belajar kayaknya. Tadi ada pasien yang belum beres

Aku     : hoala. Kalian gimana? Susah a rek?

Nai      : ga susah. Tapi kudu nangis. Wkwk

Rika     : sinio. Biar tau penderitaan kita

Riana  : kamu sih. Pake acara ninggalin co-ass. Kan ga seru ga ada yang nyanyi-nyanyi lagi

Aku     : halah.. kan di wakilin kamu bisa beb nyanyinya

Laila    : heh, beb. Ada gala dinner khusus angkatan kita. Ikut gih

Aku     : gala dinner? Ngapain aja? Makan-makan doang? Males ah

Laila    : ya engga. Ya banyak acara-acaranya gitu. Ikut yuks

Riana  : iya beb. Ikut aja. Ntar kita nyanyi bareng-bareng lagi.

Rika     : iya. Arek-arek yang udah keluar juga ikutan. Ada aul, hendi, semuanya ikut

Nai      : cepet berangkat ke Malang. Budal tok. Ga perlu uang saku

Aku     : dasar kalian. Hahaha. Aku usahain dating. Kapan sih?

Rika     : besok sabtu, jam 7 malem di hotel savanna. Tau kan tempatnya?

Aku     : oke , tau kok…

Dan percakapan masih berlanjut sambil bergosip ria. Sambil flashback kejadian dulu-dulu. Saat-saat yang menyenangkan memang.

Hari gala dinner pun datang. Mau datang ke acara gala dinner aja, aku sampai repot harus pakai baju apa. Aku dandan cantik. Sampai pacarku Cuma bisa geleng-geleng gara-gara kelakuanku yang bongkar isi lemari. Duuh.. ribet. Soalnya mau ketemu temen-temen lama. Jadi ga enak aja kalo aku ga dandan cantik.

Oh ya, mau memberi tau aja. Dulu, waktu kuliah kan aku gendut, item, ga cantik lah pokoknya. Sekarang, sudah langsing, sudah bersih kulitnya, jadi kelihatan lebih putih, sudah bisa make up natural yang kelihatan cantik. Pokoknya bener-bener berbeda sama yang dulu. Ya iyalah. Berat badan aja turun hampir 25 kg. gimana mau ga berubah drastis?

            “aku antar ya? Nanti pulangnya aku jemput lagi.”

            “ga perlu sayang. Aku bawa mobil sendiri aja. Soalnya nanti mau ngantar pulang temen-temen sekalian cerita-cerita. Sudah lama juga ga ketemu. Pasti panjang ceritanya. Hahaha”

            “kalau gitu hati-hati sayang. Jangan ngebut.”

            “iya. Kamu juga langsung tidur aja. soalnya bakal lama kalau kamu mau nungguin.

            “iya”

            Aku pun berangkat dengan sedikit rasa khawatir. Ya. Khawatir kalau disana aq tidak dianggap ada. Dan rasanya sia-sia aku datang.

Sudah sampai di hotel savanna, aq pun masuk ke ruangan dan melihat semua teman-temanku yang masih aku hafal sampai sekarang. Tidak banyak berubah mereka. Tetap seperti dulu. Aku melihat sekeliling, dan menemukan sahabat-sahabatku duduk semeja, dan ada Arsie di situ. Yah sudahlah. Aku menuju meja mereka, dengan styleku seperti ini. Terusan panjang warna dusty pink, dengan rompi batik pekalongan dominan warna royal blue. Jilbab warna dusty pink, dengan tas tangan warna royal blue juga. Plus heels warna abu-abu gelap. Plus aku pakai behel. Dan kayaknya mereka tidak akan mengenaliku sekali lihat. Benar saja, sesampainya aku di meja mereka. Mereka diam beberapa saat. Aku menepuk bahu Laila.

Aku     : “Beb..”

Laila    : “Ya Allah beb.. sumpah ini kamu? Kok beda banget sama yang dulu?

Via       : “Fitri.. kamau cantik. Aku sampai pangling”

Kiki      : “Fit, bisa ya berubah jadi kurus”

Aku     : “Wih, jahat ya. Bisa jadi kurus katamu. Hahaha.. aku kangen kalian reek”

Arsie   : “Aku juga kangen kamu. Kok ga pernah denger kabar kamu gimana sekarang.”

Aku     : “Iya beb. Aku baik-baik aja kok.”

Yang lain diam saja mendengar perkataan Arsie. Padahal selama ini mereka sering tau kabarku. Arsie aja yang tidak pernah bertanya dan tidak menghubungiku.

Mereka gantian meluk aku satu-satu. Rasanya bahagia ketemu mereka dalam keadaan baik seperti ini. Kita pun langsung rumpik. Banyak cerita, ketawa-ketawa juga. Teman-teman yang lain pun heboh lihat aku berubah. Sampai pada minta foto bareng. Sampai di ajak ke sana ke mari sama salah satu teman cowok, di ajak ketemu temen-temen lain dan beberapa dosen juga. Lalu aku sedikit berbincang dan berterima kasih ke dosenku. Beberapa dosen ada yang simpatik mendengar ceritaku selama aku tidak menjalankan profesi. Sampai ada yang bangga hingga aku bisa jadi ‘orang’ seperti ini. Sampai ditawari untuk berbagi cerita di atas panggung. Selesai berbincang-bincang dengan dosen-dosenku, aku segera kembali ke meja dengan sahabat-sahabatku.

Aku     : “Beb, gimana sama pacarmu? Mas Yusuf?”

Laila    : “Yo biasa. Pas aku ajak ke rumah, sepupu-sepupuku nempel ke dia semua. Trus aku ya ngambek. Trus dia baikin aku lagi. Ponakan juga pada minta di gendong. Trus kalau aku  pulang ga bareng sama dia, dia pasti dicariin keluargaku. Duuh..”

Aku     : “Haha.. biasa.. Bakalan jadi calon imammu. Kapan nikah? Hahaha”

Laila    : “Sek. Nunggu habisnya co-ass. Capek mikirnya kalau sekarang.”

Riana  : “Capek mikir rencana nikahnya apa capek mikir bikin anaknya?”

Laila    : “Heh, Na. ga boleh bilang gitu. Banyak yang masih kecil.”

Rika     : “Aku udah gede kok…”

Arsie   : “Aku sama pacarku sekarang sudah disetujui sama ortuku. Katanya sekarang terserah aku. Pacarku juga sudah ambil S2 gitu. Meskipun ga dokter tapi kalau S2 kan lumayan. Sekarang juga sudah ga item. Aku suruh perawatan. Trus dia mau. Kita juga buka usaha bareng. Online shop gitu. Butik cantique namanya. Coba lihat aja di instagram.”

Via       : “Oh iya iya..”

Kita semua tetiba hening. Entah apa yang dipikiran yang lain. Tapi di pikiranku seperti ini. Kok dia tiba-tiba cerita tentang pacarnya ‘sebanyak’ itu dan menurutku kita ga perlu tau. Entah maksudnya apa, tapi kesannya pamer dan banggain pacarnya. Tiba-tiba..

Riana  : (berbisik) “Kok dia pamer pacarnya? Aku lho ga ngiri. Biasa aja tuh. Ga ada yang bisa dibanggain.”

Aku     : (berbisik) “Ya udah lah. Biarin aja.”

Hening terus terjadi. Sampai akhirnya aku angkat bicara.

Aku     : “Ki, masih pelihara kucing?”

Kiki      : “Aku sekarang udah buka penitipan, Fit. Dan uangnya lumayan. Ibuku juga udah ngijinin. Toh itu bukan kucing aku. Aku beli rumah kecil sendiri. Kadang ibu juga ikut ngerawat.”

Aku     : “Bagus dong. Ga ikutan usahanya Kiki, Vi?”

Via       : “Engga. Mau fokus selesain kuliah dulu aja.”

Riana  : “Aku lho juga fokus. Fokus membina rumah tangga yang baik dan benar”

Kita semua tertawa.

Nai      : “Lha kamu gimana, Rik?”

Rika     : “Apanya?”

Nai      : “Jodohmu”

Rika     : “Sudah ada kok Nai. Tapi masih menggantung di Surabaya. Belum ketemu lagi.”

Aku     : “Masih LDR-an?”

Rika     : “Iya masih. Duuh..”

Laila    : “Ga apa-apa beb. Kan sudah fix jadi pacar toh? Yang penting saling percaya.”

Arsie   : “Loh Rika sekarang LDR-an? Memangnya kuat? Hahaha”

Kita semua tetiba hening kembali. Entah pada lagi yang dipikirkan kita semua. Kok secara ga langsung, si Arsie setengah mengejek. Aku angkat bicara lagi.

Aku     : “Gengs.. aku mau kasih tau sesuatu.”

Laila    : “Apa beb?”

Aku     : “Aku mau nikah”

Laila    : “Hah? Sumpah?”

Rika     : “Ini serius? Apa bercandaan?”

Aku     : “serius ini. Awal bulan tahun depan.”

Riana  : “Buseet.. cepet banget. Kok ga bilang-bilang?”

Aku     : “Lah ini, aku bilang. Sekalian mau ngasih undangan. Kalian jangan kaget gitu kenapa.”

Rika     : “Ya kaget. Jadi sama dia kan? Sudah mau resmi rek. Makane uayu sekarang.”

Aku     : “haha, ya bukan gara-gara itu terus aku berubah jadi cantik. Tapi tuntutan”

Nai      : “Tuntutan mertua kayaknya”

Aku     : “Heh!”

Via       : “Selamat ya. Semoga memang dia jodohmu. Semoga dilancarkan persiapannya”

Kiki      : “Semoga samawa. Hehe.. nanti kalau nikah aku pasti dateng kok. Tenang aja”

Via       : “Aku juga dateng”

Rika     : “Aku dateng sama mas calon imam”

Riana  : “Aku sama semua gebetanku kalau gitu”

Nai      : “Aku ngajak aurel, ibu ayahku, keluargaku, mbahku..”

Aku     : “Cukup Nai. Itu banyak btw. Haha.. yang antusias jadi kalian.”

Laila    : “Jadi bulan apa?”

Aku     : “Insyaallah januari pertengahan. Waktu kalian sedang tidak sibuk-sibuknya. Hehe”

Arsie   : “Loh ini sama yang mana lagi Fit? Kok aku ga tau? Gebetanmu banyak sih”

Hening terjadi lagi beberapa saat. Lalu Via angkat bicara.

Via       : “Ya sama yang terakhir.”

Aku     : “Kok kamu gatau? Kan kamu udah sering tanya. Udah sering aku jawab juga. Yang lain tanyanya ga sesering kamu tapi mereka inget”

Arsie   : “Iya. Maaf ya. Kan aku pelupa. Kamu tau sendiri kan kalau aku pelupa”

Aku     : “Iya.”

Akhirnya perbincangan di alihkan lagi. Banyak gosip yang diceritakan Riana dan Rika. Kita flashback again tentang masa-masa kuliah dulu. Tentang jaman maba. Tentang mantan-mantan sebelumnya. Tentang susah senang kita. Sampai kejadian-kejadian lucu saat co-ass. Malam ini benar-benar istimewa menurutku.

***

Aku pulang mengantarkan Laila dan Nai ke rumah mereka. Ketika keluar, aku melihat Rafa, pacar Arsie, sedang menunggu Arsie. Aku menghampirinya.

            “Lama ga ketemu ya?”

            “Siapa?”

            “Aku. Fitri.”

            “Kamu Fitri?”

            “Iya. Kenapa?”

            “Engga. Kaget aja. kamu lebih cantik sekarang.”

            “Oh ya? Benarkah?”

            “Iya. Katanya kamu tidak ikut profesi. Itu beneran?”

            “Iya, bener. Tanya aja ke pacarmu. Dia juga tau kok. Kamu lagi nunggu dia? Dia masih ada di kamar mandi kayaknya”

            “Oh iya. Kamu mau pulang? Tunggu sini dulu sampai Arsie datang.”

            “Malas lah. Aku juga bawa kendaraan sendiri. Mendingan aku pulang sekarang. Bye”

            “Tunggu. Masih ingat pertemuan kita dulu?”

            “Masih. Kenapa? Kamu masih suka sama aku?”

            “Iya. Apalagi sekarang kamu cantik. Aku makin suka sama kamu.”

            “Heh! Arsie sayang banget sama kamu. Matanya di jaga. Jangan ngelirik kesana kemari.”

Aku bergegas meninggalkannnya karena Arsie datang. Aku segera masuk mobil bersama Nai dan Laila. Lalu pulang.

Sepanjang perjalanan aku cerita apa yang aku dan Rafa bicarakan tadi. Nai dan Laila hanya mencibir Rafa. Toh tidak bisa berbuat apapun. Tidak mungkin juga bilang ke Arsie kalau pacarnya seperti itu. Sudahlah.

Tiba-tiba ada pesan masuk di BBM. Rafa.

‘Aku mau ketemu sama kamu. Setelah aku mengantar Arsie pulang.’

Laila bilang biarkan saja. Nai juga berpendapat sama. Akhirnya tidak aku balas, aku biarkan. Sudahlah. Dia memang bukan orang baik.

***

a

Love and Coffee (accident)



Ini adalah salah satu kejadian yang terjadi pada Ayu dan Agfa setelah cerpen sebelumnya (love and coffee, red.), atau bisa dikatakan lanjutan dari cerpen sebelumnya. Ini hanya lamunanku di saat aku sedang frustasi di tengah-tengah belajarku. Selamat membaca! :)
Sudah beberapa hari ini dia tak menghubungiku sama sekali. Aku mencoba mengiriminya pesan. Tapi dia hanya membalas dengan emoticon senyum lebar. Dan tidak ada balasan lagi setelah itu. Tiba-tiba, aku membayangkannya sedang berada di rumah sakit. Terbaring lemah, tak berdaya. Ketika bayanganku tentangnya belum pudar, ada telpon yang membuyarkan lamunanku. Nomor tak dikenal. Lalu aku mengangkat telpon itu. Mungkin penting.
“Apa benar, ini nomornya Ayu?”
“Iya mas. Benar.”
“Ayu pacarnya Agfa bukan?”
“Iya mas. Ini siapa ya? Kok tanya-tanya gitu?”
“Ini Edy. Teman satu kontrakan Agfa. Bisa ke Rumah Sakit Araya sekarang?”
“Lho? Ada apa mas? Kok ke rumah sakit?”
“Sudah. Datang ke sini dulu. Aku tunggu di pintu masuk. Masih ingat wajahku kan?”
“Oh.. iya iya. Aku ke sana sekarang.”
“Secepatnya ya!”
Dan telpon itu pun berakhir dengan penuh tanda tanya di otakku. Pasti ada hubungannya dengan Mas Agfa. Kecelakaan? Entahlah. Yang jelas aku harus bergegas ke sana.
Sesampainya di sana…
“Ayu, kan?”
“Iya. Ada apa sih mas? Mas Agfa kenapa? Kecelakan kah?”
“Kamu jangan shock dulu ya. Jadi gini. Seminggu yang lalu, Agfa kecelakaan motor. Dan patah tulang tangan, lengan bawah. Sekarang masih belum sembuh.”
“Terus? Aku gak dapat kabar sama sekali! Dan pantas, dia hanya membalas pesanku dengan senyum atau hanya bilang iya. Kenapa gini?!”
“Dia sebenarnya gak mau kamu tau kejadian ini. Dia tuh gak mau buat kamu jadi khawatir. Tapi, aku beritahu hal ini ke kamu. Aku kasian kalau kamu gak tau apa-apa.”
“Parah gak? Tangan sebelah mana?”
“Lumayan. Sebelah kanan. Ayo, ke kamarnya sekarang!”
Aku pun berjalan dengan rasa khawatir luar biasa. Ketika akan masuk, aku melihat banyak beberapa pasang alas kaki. Sepertinya dia di kunjungi banyak kerabatnya.
Dan dugaanku benar.
Mas Agfa sedang di kelilingi kerabat dan beberapa temannya, serta mantannya. Dan Ketika aku masuk ke dalam, semua menengok, dan mas Agfa kaget. Aku hanya berdiam diri di depan pintu.
“Masuk aja mbak.” Kata salah seorang yang tidak aku kenal.
Aku pun masuk, dan mas Agfa memanggilku dengan isyarat tangannya. Aku pun mendekat.
“Siapa yang menyuruhmu datang ke sini?”
“Itu.. Mas Edy.”
Mas Agfa pun mengepalkan tangannya dan ditujukan ke Mas Edy.
“Hhh.. Sudahlah. Duduk sini.”
Aku pun duduk, dan diam. Melihat keadaan Mas Agfa yang terbaring lemah, tak berdaya dengan tangannya yang patah tulang itu.
“Agfa, dia siapa?” tanya salah seorang dari mereka.
“Pacarku.”
“Oh.. gitu. Ceritanya di rahasiakan dari kita semua kalau sudah punya pacar nih? Sudah sejak kapan?”
“Bukan di rahasiakan. Masa’ harus di beritahu ke semua orang kalau aku sudah punya pacar? Sudah lama kok.”
“Berarti habis ini ada yang traktiran dong.”
“Ngawur. Sudah-sudah. Kasian dia baru datang sudah di interogasi.”
“Hahaha.. Oke oke. Kita pulang dulu. Lain kali kita ke sini.”
“Sip.”
Teman-teman mas Agfa dan mantannya pun pulang, kecuali mas Edy, dan dua cowok yang tidak ku kenal.
“Kalian di sini saja. Tidak apa-apa.” Kata mas Agfa pada ketiga temannya itu.
“Okelah. Kita tidur di sini kalau gitu.”
“Iya. Anggap rumah sendiri. Hahaha…”
Aku hanya terdiam. Tidak bisa berkata-kata. Dan air mata pun menetes.
“Lho? Kok nangis?”
“Lha mas Agfa jahat. Sepertinya cuma aku yang tidak tau kejadian ini.”
“Iya. Maaf ya.. Soalnya kamu masih ujian. Aku takut ganggu ujian kamu waktu itu. Jadi aku gak beritau hal ini.”
Aku pun diam kembali dan menangis. Mas Agfa hanya mengusap-usap kepalaku dan menyeka air mataku. Dengan wajahnya yang pucat itu, ia pun menyungging senyum. Teman-temannya melihat, dan tersenyum pula.
“Sudah mbak. Gak perlu nangis. Dia itu gak parah patah tulangnya. Sok-sok an aja itu mbak.”
“Heh, kalian itu! Ada orang lagi so sweet malah ngeledek. Ini sakit serius tau!”
“Hahaha.. iya iya. Maaf. Habisnya, kalian berdua romantis-romantisan gitu.” Mereka pun tertawa terbahak-bahak. Dan aku pun sedikit terhibur.
“Tanganmu masih gak bisa gerak sama sekali mas?”
“Iya. Hehe..”
“Sakit kah?”
“Engga. Cuman sedikit nyeri. Tapi gak sakit. Tenang aja. Sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Gak usah nangis. Berlebihan kamu itu.”
“Syukurlah.. iya.. maaf. Kan aku khawatir.”
“Iya iya. Aku tau kok.”
Pintu terbuka, dan ada perawat yang membawakan makanan. Aku segera menerimanya. Dan menyerahkannya pada mas Agfa.
“Suapin lah. Tanganku masih di gips gini. Mau kan?”
Aku pun hanya tersenyum dan menyuapkan makanan itu ke mulutnya.
“Haduh mbak. Itu modus tuh. Biasanya juga makan sendiri bisa kok.”
“Gak apa-apa mas. Sekali waktu aja. Lagi pula aku ini juga jadwalnya longgar. Jadi gak keburu sama waktu.”
“Hush. Kalian itu. Biarin aja. Toh dia pacarku. Kenapa kalian yang repot?”
“Iya deh, iya.”
***
Hari demi hari pun berlalu. Hingga akhirnya Mas Agfa bisa keluar dari rumah sakit. Aku pun datang untuk membantunya beres-beres. Ketika aku masuk, ternyata ada orang tuanya dan ketiga temannya itu. Aku pun canggung. Lalu setelah salim dengan orang tua Mas Agfa, aku pun segera menunggu di luar. Tapi mas Agfa memanggilku. Aku segera masuk ke dalam lagi dan mendekati mas Agfa. Dia menyuruhku membereskan barang-barang seperti pakaian, dompet dan handphone miliknya. Aku pun segera melakukannya.
“Siapa dia” Tanya orang tua mas Agfa.
“Pacarku, bu.”
Aku pun kaget. Kenapa? Karena kedua orang tua kita yang tidak mengijinkan kita pacaran sampai masa studi selesai. Dan kesepakatannya adalah kita backstreet. Orang tua mas Agfa pun kaget dan menanyakan kebenarannya padaku. Dan aku hanya menjawab iya. Orang tua mas Agfa pun diam. Tak berkata satu patah kata pun.
Selesai beres-beres, mas Agfa bilang kepadaku bahwa ia akan pulang ke rumahnya. Aku mengiyakan. Lalu, dia mencium keningku, di depan orang tuanya. Ia pun memelukku erat. Entah apa yang dilakukannya. Aku bingung harus berbuat apa. Setelah itu, dia hanya tersenyum. Dan meninggalkanku bersama ketiga temannya.
“Mbak, orang tuanya Agfa gak tau kalau kalian pacaran?”
“Engga, mas. Kita ini lagi backstreet. Aku juga kaget tadi waktu dia mengakui hubungan ini di depan orang tuanya. Hhh.. Entahlah. Aku tak ingin memikirkannya.”
“Ya sudah mbak. Kita pulang dulu.”
“Oh, iya mas.”
Sesampainya di rumah, aku pun bingung apa yang terjadi di rumah sakit tadi. Tapi, semoga tidak ada kejadian apapun, dan tidak berakibat fatal pada hubungan ku dan mas Agfa.
***
To be continued…